Kita Semua adalah Guru, Kemanakah Arah Pendidikan Kita?
( Penyusun HT. Romly Qomaruddien, MA., disampaikan pada acara Musyawarah bidang pendidikan Dewan Da’wah Islam di kampus STID Moh. Natsir)
Materi ke-1
Renungan Nasihat:
Kalaulah ingin segera memanen,
Tanamlah biji dari sekarang.
Kalaulah ingin membangun rumah,
Siapkan bahan dari sekarang.
Kalaulah ingin mengharapkan pemimpin masa depan,
Maka didiklah manusia sekarang.
Kita adalah orang tuanya manusia
Kita adalah gurunya manusia
Sekolah kitapun sekolahnya manusia
ان الاحلام اليوم حقيقة الغدّ
“Sesungguhnya mimpi di hari ini
Adalah kenyataan di hari esok”
Materi ke-2
Pendidikan adalah perubahan dari tidak tahu (jahalah) menjadi tahu (marifah), dari tahu menjadi buah pikir (fikrah), dari buah pikir menjadi aksi nyata (harakah/amal).
Proses perubahan (riyadhah):
1. Perubahan Lahir / fisik (Abdan)
2. Perubahan Pikir / intelektual (adzhan)
3. Perubahan Batin / spiritual (anfus)
Maka hakikat ilmu:
Menyampaikan apa yang diketahui kepada yang Maha tahu
Pendekatan Mendidik:
1. Ta’lim (memindahkan ilmu)
2. Tadris (menyiapkan ilmu secara terukur)
3. Tahdzib (membina moral)
4. Tazkiyah (memahami diri)
5. Ta’dib (penanaman ketaladanan)
6. Tarbiyah (mengembangkan, memomong)
Lembaga Pendidikan:
1. Rumah
2. Sekolah
3. Masjid
4. Lingkungan
Macam-macam guru:
· Maha Guru (Allah gurunya orang-orang yang bertaqwa)
1. Guru sejati (Rasulullah n)))
2. Guru dasar (Orang tua)
3. Guru bayar (Guru sekolah)
4. Guru nyasar (Lingkungan, jalanan dll)
5. Guru benar (Guru yang dibekali secara optimal dengan kecerdasan pikir (dzaka) dan kecerdasan batin (zaka) – alim rabbani)
Kedudukan guru:
1. Mu’allim (pengajar)
2. Muballigh (penyampai)
3. Mudarris (pemberi tugas)
4. Muhadzdzib (Pembina)
5. Muzakkiy (pembersih jiwa)
6. Mu’addib (pemberi contoh)
7. Muwajjih (pengarah)
8. Mursyid (penuntun)
9. Munazhzhim (perencana)
10. Mudarrib (pendorong)
11. Murabbiy (pengayom, pemomong)
Hakikat murid:
“Tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah murid belum menemukan guru yang cocok”
Guru berasal dari singkatan kata “Digugu dan ditiru”. Oleh karenanya, sangat penting bagi seorang guru untuk memperhatikan setiap perbuatannya agar senantiasa sesuai dengan aturan agama, serta adat kebiasaan di masyarakat dimana ia tinggal. Karena apapun yang dilakukannya akan menjadi panutan, cerminan dan prototype bagi seluruh muridnya, bahkan masyarakat.
Kata murid itu sendiri berasal dari bahasa arab. Yaitu dari kata araada yuriidu iraadatan fahuwa muriidun yang artinya orang yang memiliki keinginan atau kehendak. Bisa diartikan bahwa murid adalah orang yang senantiasa ingin berubah dengan mengikuti seseorang yang menjadi gurunya.
Makna pendidikan dalam istilah bahasa arab:
1. Tarbiyah; pertama dari akar kata rabba, kemudian lahir kata rabb yang memiliki cakupan makna yang luas, antara lain: memiliki, menguasai, mengatur, memelihara (termasuk juga mendidik dan mengasuh), memberi nikmat dan mengawasi. Jika kata rabb ini disandingkan dengan kata alamin, maka pengertiannya adalah Allah yang memiliki dan menciptakan serta mengatur alam semesta.
Kedua, dari akar kata rabaa, artinya tumbuh, bertambah dan berkembang. Kemudian turunan katanya yang lain adalah rabbaa, yang artinya mengasuh, mendidik atau memelihara. Dari kata rabba ini munculah istilah rabbaniyun, sebagaimana dalam (QS. Al Imran: 79) yakni orang yang terdidik, atau orang soleh.
2. Ta’lim; berarti mengajarkan apa yang ada dalam kitabullah dan sunnah.
3. Ta’dib; berasal dari kata adab, yang berarti akhlaq mulia dan terpuji. Maka kata ta’dib asalnya dari kata addaba, artinya mengadabkan, atau mengajarkan adab. Sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Sai’d Al Khudri ra, Rasulullah n bersabda:
مَنْ عَالَ ثَلَاثَ بَنَاتٍ، فَأَدَّبَهُنَّ، وَزَوَّجَهُنَّ، وَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، فَلَهُ الْجَنَّةُ
“Barangsiapa yang merawat tiga anak perempuan, lalu mendidik mereka, menikahkan mereka dan berbuat baik kepada mereka, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud no. 5147, Syaikh Al Albani mendaifkannya)
4. Tahdzib; merupakan masdar dari kata hadzdzaba artinya membersihkan, memurnikan dan membereskan.
Kode etik profesi guru menurut Al Ghazali dalam Ihya Ulumud Din (1992: 1, 74-78) sebagai berikut:
1. Menyayangi para peserta didiknya, bahkan memperlakukan mereka seperti perlakuan dan kasih saying guru kepada anaknya sendiri.
2. Guru bersedia sungguh-sungguh mengikuti tuntunan Rasulullah n, sehingga ia tidak mengajar untuk mencari upah atau untuk mendapatkan penghargaan dan tanda jasa. Akan tetapi mengajar semata-mata mencari ridho Allah dan mendekatkan diri kepadanya. Guru tidak merasa dirinya sangat berhak untuk dihargai oleh peserta didik, meski tindakan menghargai merupakan keharusan bagi mereka (artinya penghargaan atau pun upah bukanlah sesuatu yang harus dimunculkan oleh guru, melainkan sudah menjadi kewajiban penyelenggara pendidikan.pen).
3. Guru tidak boleh mengabaikan tugas memberi nasihat kepada para peserta didiknya. Ia melarang peserta didik menggeluti tahap keilmuan tertentu sebelum waktunya.
4. Mencegah peserta didik jatuh terjerembab ke dalam akhlak tercela melalui cara sepersuasif mungkin dan melalui cara penuh kasih sayang, tidak dengan cara mencemooh dan kasar.
5. Guru dengan spesialisasi keilmuan tertentu tidak memandang remeh disiplin keilmuan lainnya, semisal guru yang ahli dalam ilmu bahasa tidak menganggap remeh ilmu fiqih, demikian pula sebaliknya. Sebab sikap meremehkan adalah akhlak tercela bagi guru.
6. Guru menyampaikan materi pengajarannya sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didiknya. Ia tidak mengajarkan materi yang berada di luar jangkauan pemahaman peserta didiknya, karena dapat mengakibatkan keputus-asaan atau apatisme terhadap materi yang diajarkan.
7. Terhadap peserta didik yang berkemampuan rendah, guru menyampaikan materi yang jelas, konkrit dan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dalam mencernanya. Jangan sampai guru menuturkan kepada peserta didik tersebut bahwa nanti akan ada materi yang sangat rumit dan kompleks, karena hal itu dapat berpengaruh buruk bagi minat belajarnya dan mengacaukan pikirannya.
8. Guru mau mengamalkan ilmunya, sehingga yang ada adalah menyatunya ucapan dan tindakan. Hal ini penting, sebab bagaimanapun ilmu hanya diketahui dengan mata hati sedangkan perbuatan diketahui dengan mata kepala. Pemilik mata kepala lebih banyak dibandingkan dengan pemilik mata hati, sehingga bila terjadi kontradiksi antara ilmu dan amal, tentu akan menghambat keteladanan.







0 comments:
Posting Komentar