Dari Penaklukan Islam hingga Realitas Kontemporer
Pendahuluan
Baitul Maqdis—yang dikenal juga
sebagai Al-Quds atau Jerusalem—merupakan salah satu kota paling tua dan paling
diperebutkan dalam sejarah manusia. Kota ini memiliki kedudukan sakral bagi
tiga agama samawi: Islam, Kristen, dan Yahudi. Dalam Islam, Baitul Maqdis
menempati posisi istimewa sebagai kiblat pertama, tempat Isra’ Mi’raj, serta tanah
para nabi. Sejak ditaklukkan oleh kaum Muslimin pada abad ke-7 M, kota ini
mengalami pergantian kekuasaan yang panjang dan penuh dinamika hingga hari ini.
1. Penaklukan Baitul Maqdis oleh Kaum Muslimin (637 M)
a. Latar Belakang
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ,
ekspansi Islam berlanjut pada masa Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه. Pasukan Muslim di
bawah pimpinan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah berhasil mengepung Jerusalem yang
saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi Bizantium.
Penduduk kota—mayoritas
Nasrani—bersedia menyerahkan kota langsung kepada Khalifah Umar, bukan kepada
panglima perang.
b. Perjanjian Umar (Al-‘Uhda
al-‘Umariyyah)
Khalifah Umar datang langsung
dari Madinah dan menandatangani perjanjian bersejarah yang menjamin:
- Keamanan jiwa dan harta penduduk
- Kebebasan beragama
- Perlindungan gereja-gereja
- Larangan pemaksaan agama
Peristiwa ini menjadi preseden
toleransi beragama dalam sejarah dunia.
c. Awal Pemerintahan Islam
Umar membersihkan kawasan Masjid
Al-Aqsha yang sebelumnya terbengkalai dan menetapkannya sebagai pusat ibadah
kaum Muslimin. Sejak saat itu, Baitul Maqdis menjadi bagian integral dari dunia
Islam.
2. Masa Dinasti Umayyah (661–750
M)
Pada masa Khalifah Abdul Malik
bin Marwan, dibangun:
- Kubah Ash-Shakhrah (Dome of the Rock) pada tahun
691 M
- Renovasi besar Masjid Al-Aqsha
Tujuan pembangunan ini bukan
hanya religius, tetapi juga:
- Menegaskan identitas Islam
- Menjadikan Baitul Maqdis pusat peradaban
- Menyaingi simbol-simbol Bizantium
Kota ini berkembang sebagai pusat
ilmu, ibadah, dan administrasi.
3. Masa Dinasti Abbasiyah dan
Kekuasaan Islam Lanjutan
Pada masa Abbasiyah:
- Baitul Maqdis tetap berada di bawah kekuasaan
Muslim
- Kota mengalami beberapa kali gempa dan renovasi
- Tetap terbuka bagi umat Kristen dan Yahudi
Meski perhatian politik Abbasiyah
lebih terpusat di Baghdad, status keagamaan Al-Quds tidak pernah ditinggalkan.
4. Pendudukan Tentara Salib
(1099–1187 M)
a. Penaklukan oleh Tentara Salib
Pada Perang Salib Pertama (1099
M), tentara Salib berhasil merebut Baitul Maqdis. Peristiwa ini diwarnai:
- Pembantaian besar-besaran terhadap Muslim dan
Yahudi
- Masjid Al-Aqsha dijadikan istana dan markas militer
- Kubah Shakhrah diubah menjadi gereja
Periode ini menjadi salah satu masa
tergelap dalam sejarah kota.
b. Pembebasan oleh Shalahuddin
Al-Ayyubi (1187 M)
Pada 27 Rajab 583 H / 1187 M, Shalahuddin
Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis setelah kemenangan di Perang Hattin.
Berbeda dengan tentara Salib:
- Tidak ada pembantaian
- Penduduk diberi amnesti
- Tempat ibadah dikembalikan fungsinya
Pembebasan ini menjadi simbol keadilan
dan akhlak Islam dalam perang.
5. Masa Dinasti Ayyubiyah dan
Mamluk
Setelah Shalahuddin:
- Kota dipelihara sebagai pusat keilmuan
- Banyak madrasah, zawiyah, dan wakaf didirikan
- Al-Aqsha menjadi pusat pendidikan Islam
Baitul Maqdis relatif stabil
selama masa ini.
6. Masa Kekhalifahan Utsmaniyah
(1517–1917)
Selama ±400 tahun, Baitul Maqdis
berada di bawah kekuasaan Turki Utsmani.
Ciri utama periode ini:
- Stabilitas politik
- Perlindungan situs suci
- Renovasi tembok kota oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni
- Hubungan antaragama relatif damai
Utsmaniyah menjaga status quo
tempat suci hingga runtuhnya kekhalifahan.
7. Masa Mandat Inggris
(1917–1948)
Pada Perang Dunia I:
- Inggris merebut Palestina dari Utsmani
- Dikeluarkan Deklarasi Balfour (1917) yang mendukung
pendirian “tanah air Yahudi”
Dampaknya:
- Imigrasi besar-besaran Yahudi Eropa
- Konflik dengan penduduk Arab Palestina
- Melemahnya posisi umat Islam atas Baitul Maqdis
8. Pendudukan Israel dan Konflik
Modern (1948–Sekarang)
a. 1948–1967
- Yerusalem terbagi: Barat dikuasai Israel, Timur
(termasuk Al-Aqsha) dikuasai Yordania
b. 1967 (Perang Enam Hari)
- Israel menduduki Yerusalem Timur
- Masjid Al-Aqsha berada di bawah pendudukan militer
c. Kondisi Kontemporer
Hingga hari ini:
- Baitul Maqdis berada dalam konflik berkepanjangan
- Akses umat Islam ke Al-Aqsha sering dibatasi
- Upaya perubahan status quo terus terjadi
- Kota menjadi simbol perlawanan dan identitas umat
Islam Palestina
Penutup
Sejarah Baitul Maqdis adalah
cermin perjalanan panjang umat manusia, khususnya umat Islam, dalam menjaga
tanah suci, keadilan, dan kemanusiaan. Sejak ditaklukkan oleh Umar bin Khattab
hingga hari ini, Baitul Maqdis tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga amanah
aqidah dan sejarah.
Bagi umat Islam, Baitul Maqdis
bukan sekadar wilayah, melainkan warisan iman, peradaban, dan tanggung jawab
sejarah yang terus hidup hingga akhir zaman.







0 comments:
Posting Komentar