Cari Blog Ini

Kamis, 11 Desember 2025

Jagalah alam, Allah akan menjagamu

Akhir-akhir ini kita sering melihat dan mendengar berita tentang bencana alam, baik itu banjir, tanah longsor, perubahan iklim yang tidak menentu, kemarau panjang, kebakaran hutan serta banjir bandang. Seolah-olah alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia, padahal manusia sendiri dalam menjalani kehidupannya tidak bisa terlepas dari hubungannya dengan alam itu sendiri. Semua bencana tersebut tidak jarang selalu menimbulkan korban baik harta benda, dan juga nyawa yang sudah tidak terhitung jumlahnya.

Dan peristiwa bencana yang terbaru yang telah menelan korban jiwa sebanyak hampir 1000 orang, dan sampai hari ini sebagian korban masih belum ditemukan adalah apa yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera, yaitu tepatnya di wilayah Aceh, Sumatera barat dan juga sumatera utara. Dimana sebagian besar wilayah tersebut telah dilanda banjir bandang. Banjir tersebut telah meluluhlantakan perkampungan, menghancurkan jalan dan jembatan, dan membinasakan binatang-binatang ternak dan juga hewan-hewan liar lainnya.   

Sebagai seorang muslim, tentunya kita meyakini bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah, karena semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini telah tercatat di lauhul mahfuzh. Akan tetapi apa yang terjadi tentunya berdasarkan sunnatullah, dimana ada sebab dan akibatnya. Begitu pula dengan bencana alam, tentunya ada sebabnya sehingga terjadilah sesuai dengan kehendak Allah. Contoh nyata adalah banjir di sebagian wilayah Sumatera itu, dimana dikabarkan bahwa air hujan yang turun di wilayah dataran tinggi, baik itu di pegunungan maupun bukit langsung mengalir deras ke wilayah dataran yang lebih rendah, tanpa ada yang bisa menahannya, hal ini diperparah dengan kayu-kayu gelondongan hasil penebangan hutan yang dilakukan dengan semena-mena ikut terbawa oleh air bah, sehingga hal ini semakin menimbulkan dampak kerusakan yang parah.

Maka kalau kita perhatikan, ada faktor yang menyebabkan bencana ini terjadi yaitu kerusakan alam yang mana tentunya hal ini dilakukan oleh manusia-manusia yang serakah, orang-orang yang melampaui batas, yang tidak mempedulikan dan tidak memikirkan apa akibat dari perbuatannya dengan merusak alam. Mereka mengeksploitasi alam dengan semena-mena, merusak hutan, melakukan aktivitas penambangan dengan tidak memperhatikan dampak lingkungannya, yang akhirnya masyarakat sekitarnyalah yang harus menanggung akibatnya. Manusia-manusia yang suka berbuat kerusakan di muka bumi ini, yang sebenarnya telah digambarkan oleh Allah sebagaimana dalam QS. Ar Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Terlepas dari apa agama mayoritas di daerah yang terkena bencana tersebut, yang jelas Islam berlepas diri dari perbuatan yang suka melakukan kerusakan di muka bumi. Bahkan dari ayat tersebut tersurat dan tersirat bahwa Allah tidak pernah meridhai perbuatan merusak alam, dan dengan terjadinya bencana, Allah ingin memberikan teguran dan peringatan bagi manusia, sehingga harapannya semua bencana itu menyadarkan manusia dan bertaubat sehingga kembali ke jalan yang benar. Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya mengutip makna kerusakan dalam ayat itu kesyirikan, dimana kesyirikan adalah kekrusakan yanng paling besar yang dilakukan oleh manusia di muka bumi. Beliau juga menafsirkan kata kerusakan adalah kekeringan atau kemarau, sedikitnya pepohonan dan tumbuhan, dan hilangnya keberkahan. Hal ini jelas terlihat, air hujan yang Allah turunkan yang seharusnya itu adalah menjadi nikmat bagi makhuk yang ada di muka bumi, akan tetapi telah berubah menjadi bencana yang tak terduga. Beliau juga mengutip bahwa semua kemaksiatan dan juga kedhaliman yang dilakukan oleh manusia menjadi penghalang dari tanaman, pembangunan dan juga perdagangan.   

Bahkan di dalam QS. Al A'raf ayat 56, Allah telah dengan tegas melarang perbuatan merusak alam,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Islam datang dengan membawa kebaikan yang bukan terbatas hanya untuk umat manusia semata, akan tatapi juga untuk seluruh makhluk yang ada di alam ini, 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (semesta)." (QS. Al Anbiya: 107).

bukankah Rasul SAW telah bersabda:

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kalian siapa saja yang ada di langit (Allah SWT)." (H.R. Tirmizi, Ahmad, Abu Dawud)

Hadis ini seharusnya memberikan motivasi bagi umat Muslim untuk memiliki kepedulian dan kasih sayang yang universal. "Siapa saja yang ada di bumi" mencakup manusia dari berbagai latar belakang, hewan, tumbuhan, dan seluruh ekosistem. Balasan dari kasih sayang tersebut datang langsung dari Allah SWT.

Dalam hadis lain ditegaskan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap lingkungannya, Allah akan catat sebagai bentuk sedekah baginya,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

"Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu tanaman atau biji itu dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan baginya (yang menanam) adalah sedekah." (Hadis Riwayat Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553)
Rasul telah mengajarkan kepada kita agar senantiasa menjaga dan merawat alam dan lingkungan dengan menanam pohon, bahkan kalaupun besok akan terjadi kiamat, sebagaimana dalam sabdanya:
إِذَا قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْ
"Jika hari kiamat telah tiba, sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas (pohon), maka jika dia mampu untuk tidak berdiri (meninggalkan tempatnya) sampai dia menanamnya, maka tanamlah tunas itu." (H.R.Ahmad dan Bukhari)
Hadis ini menekankan pentingnya sikap optimis, produktivitas, dan terus melakukan kebaikan serta menjaga lingkungan hidup, bahkan di saat-saat yang paling kritis, karena pahalanya akan terus mengalir hingga hari kiamat.

0 comments:

Posting Komentar

SEJARAH BAITUL MAQDIS

Dari Penaklukan Islam hingga Realitas Kontemporer Pendahuluan Baitul Maqdis—yang dikenal juga sebagai Al-Quds atau Jerusalem—merupakan s...