Segala puji bagi Allah Jalla jalaaluhu, yang telah melimpahkan berjuta-juta kenikmatan kepada kita semua, yang dengannya kita bisa menjalankan segala aktivitas sehari-hari, terlebih lagi nikmat iman dan Islam, yang menjadikan semua nikmat duniawi terasa begitu sempurna. Shalawat serta salam semoga terlimpahcurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah Allah dan menunaikan amanah-Nya dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak ada sesuatupun yang membawa kebaikan bagi umatnya luput darinya, dan juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang mengikuti ajarannya dengan baik.
Hadirin jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah
Telah datang kepada kita tamu yang mulia, yaitu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, maka sudah sepantasnya kita semua menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, sebagaimana Rasul SAW menyambutnya dengan penuh kegembiraan, beliau bersabda:
ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ
"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahan." (HR. Ahmad)
Rasul SAW manyampaikan kedatangannya kepada para sahabat, agar mereka menyambutnya dengan kebahagiaan, bukan dengan keluhan, karena salah satu tanda orang beriman adalah dia merasa gembira dengan datangnya karunia dan rahmat dari Allah, sebagaimana Allah berfirman:
ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).
Begitu pula yang dicontohkan oleh para ulama dahulu, mereka begitu berharap agar bisa dipertemukan dengan bulan ini, bahkan kegembiraan mereka tercermin dengan do'a yang senantiasa mereka panjatkan enam bulan sebelum kedatangan bulan ini. Demikianlah seharusnya sikap kita, dan hendaknya kita merasa khawatir jika perasaan gembira itu tidak ada dalam diri kita, seolah-olah tidak ada yang istimewa dengan kedatangannya, karena bisa jadi kita akan terluput dari kebaikan yang Allah curahkan di bulan ini. Dan tidaklah seseorang meremehkan bulan ramadhan kecuali karena kebodohannya terhadap agama Islam.
Hadirin jama'ah jum'at rahimakumullah
Di bulan ini kita diperintahkan untuk menjalankan salah satu rukun Islam yaitu berpuasa selama sebulan lamanya, sebagaimana dalam firmannya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dan tidaklah Allah memerintahkan suatu amalan melainkan pasti ada hikmah yang besar yang terkandung di dalamnya, dengan perintah ini, akan terlihat siapa orang-orang yang benar-benar beriman dan siapa orang yang keimanannya hanyalah dusta belaka. Terlebih lagi puasa adalah amalan yang dilakukan dengan waktu yang cukup lama, kurang lebih 13 jam lamanya, dan tidak mungkin untuk terlihat dan terpantau oleh manusia lainnya, hanya dirinya dengan Allah saja yang mengetahui amalan puasanya. Maka pantaslah kalau ganjaran bagi orang yang melakukannya begitu besar, Rasul SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan
karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Allah menjanjikan ampunan dari dosa-dosanya yang telah lalu bagi orang-orang yang berpuasa dengan dilandasi keimanan kepada Allah, serta keyakinan bahwa semua amal kebaikan dan keburukannya itu pasti akan dihisab, maka dia berharap Allah akan menerima amalan puasanya serta menjadi penggugur dosa dan keburukannya di masa lalu.
Hadirin jama'ah jum'at rahimakumullah
Bagi sebagian orang terutama yang lemah imannya dan senantiasa mengikuti hawa nafsunya, tentu akan terasa berat untuk menunaikan ibadah puasa ini, dimana dia harus menahan sesuatu yang selama ini telah menjadi kebutuhan dasarnya, yaitu makan dan minum, maka tidak heran ganjaran yang akan didapatkannya pun begitu besar, sebagaimana dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari sahabat Abu Hurairah ra, Allah SWT berfirman:
قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ
فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Allah SWT berfirman, "Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Imam Al Qurtubi berkata: “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya." Beliau juga menjelaskan bahwa amalan-amalan telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa ia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali sampai sekehendak Allah kecuali puasa. Maka Allah sendiri yang akan memberi pahala tanpa batasan. Hal ini dikuatkan dari periwayatan Muslim, 1151 dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallalm bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”
Hadirin jama'ah jum'at rahimakumullah
Namun dengan pahala yang begitu besar, bukan berarti seorang yang berpuasa bisa merasa yakin dia akan mendapatkannya, karena berapa banyak orang yang berpuasa, akan tetapi di sisi Allah amalannya tidak bernilai sedikitpun, sebagaimana yang Rasulullah SAW ingatkan dalam sabdanya:
صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Banyak orang berpuasa, tetapi tidak
mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus.” (HR Ibnu Majah)
Artinya, kita harus menjaga puasa kita dengan sebaik-baiknya bahkan seluruh anggota badan kita harus ikut berpuasa. Puasanya mata dari melihat yang haram, puasa mata adalah bagian dari menjaga kesucian diri selama beribadah. Menahan pandangan dari hal-hal yang haram bukan hanya melatih kedisiplinan, tetapi juga menjaga kebersihan hati. Apa yang dilihat mata dapat memengaruhi pikiran dan perasaan, bahkan merusak ketenangan jiwa. Dengan mem-puasa-kan mata, ibadah menjadi lebih bernilai dan hati lebih mudah merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan.
Puasanya lisan dari berkata kotor dan dusta, juga merupakan bentuk penjagaan diri yang sangat penting dalam ibadah. Menahan lisan dari berkata kotor, berdusta, dan menyakiti orang lain menjaga kemurnian puasa serta mencerminkan akhlak yang baik. Kata-kata memiliki kekuatan besar, bisa menjadi ladang pahala atau sumber dosa. Dengan menjaga lisan, hati menjadi lebih tenang, hubungan sesama membaik, dan ibadah pun bernilai lebih di hadapan Allah.
Puasanya hati dari iri dan dengki sebagai upaya menyucikan batin agar ibadah
semakin bermakna. Perasaan iri dan dengki dapat menggerogoti keikhlasan serta
merusak ketenangan jiwa. Dengan menahan hati dari prasangka buruk dan
menggantinya dengan syukur serta doa kebaikan untuk sesama, hati menjadi lebih
lapang. Puasa yang disertai kebersihan hati akan mengantarkan diri pada
kedamaian dan keberkahan yang lebih sempurna.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ
وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،
وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ







0 comments:
Posting Komentar