Cari Blog Ini

Jumat, 19 September 2025

Pembangunan Masjid Nabawi


Langkah pertama yang diambil Rasulullah n, dalam menegakkan dakwah adalah membangun masjid. Pembangunan masjid merupakan hal penting agar masjid dapat menjadi pusat ibadah, dakwah, dan musyawarah antar kaum Muslim.

Ia membeli tanah milik dua orang anak yatim dari Bani Najjar, lalu kaum muslimin meratakannya dan menyusun batu-batunya sebagai kiblat masjid menuju ke ke arah Baitul Maqdis.

Mereka membangun kamar-kamar di samping masjid untuk istri-istri Nabi. Ada dua kamar, satu untuk Saudah binti Zam'ah, dan yang lainnya untuk Aisyah. Nabi saw tidak menikah dengan siapa pun selain mereka, maka Nabi termasuk di antara mereka yang ikut serta dalam pekerjaan tersebut dan bersabda:

“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat. Dukunglah kaum Ansar dan Muhajirin”

Pada tahun ini (tahun pertama Hijriah), mulai disyariatkan adzan. Nabi (saw) mengumpulkan para sahabat untuk membahas apa yang harus dilakukan pada waktu salat dan bermusyawarah, lalu mereka sepakat dengan pendapat Abdullah bin Zaid Al-Ansari (yang kita tahu hari ini dalam lafadz adzan), ia melihatnya dalam mimpi, dan mimpinya cocok dengan mimpi Umar bin Al-Khattab, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya.

Kemudian Nabi saw. menjalin persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar di rumah Anas bin Malik, berdasarkan itsar (saling mendahulukan satu dengan yang lain), persahabatan, dan tolong-menolong. Mereka berjumlah sembilan puluh orang. Dengan saling mempersaudarakan ini, Nabi saw membangun fondasi persaudaraan Islam di antara para sahabat, yaitu kesetiaan dan ketaatan dalam bentuknya yang paling sempurna. 

0 comments:

Posting Komentar

SEJARAH BAITUL MAQDIS

Dari Penaklukan Islam hingga Realitas Kontemporer Pendahuluan Baitul Maqdis—yang dikenal juga sebagai Al-Quds atau Jerusalem—merupakan s...