Langkah pertama yang diambil Rasulullah n, dalam menegakkan dakwah adalah membangun masjid. Pembangunan masjid merupakan hal penting agar masjid dapat menjadi pusat ibadah, dakwah, dan musyawarah antar kaum Muslim.
Ia membeli tanah milik dua orang
anak yatim dari Bani Najjar, lalu kaum muslimin meratakannya dan menyusun
batu-batunya sebagai kiblat masjid menuju ke ke arah Baitul Maqdis.
Mereka membangun kamar-kamar di samping masjid untuk istri-istri Nabi. Ada dua kamar, satu untuk Saudah binti Zam'ah, dan yang lainnya untuk Aisyah. Nabi saw tidak menikah dengan siapa pun selain mereka, maka Nabi termasuk di antara mereka yang ikut serta dalam pekerjaan tersebut dan bersabda:
“Ya Allah, tidak ada kebaikan
kecuali kebaikan akhirat. Dukunglah kaum Ansar dan Muhajirin”
Pada tahun ini (tahun pertama
Hijriah), mulai disyariatkan adzan. Nabi (saw) mengumpulkan para sahabat untuk
membahas apa yang harus dilakukan pada waktu salat dan bermusyawarah, lalu
mereka sepakat dengan pendapat Abdullah bin Zaid Al-Ansari (yang kita tahu hari
ini dalam lafadz adzan), ia melihatnya dalam mimpi, dan mimpinya cocok dengan mimpi
Umar bin Al-Khattab, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya.
Kemudian Nabi saw. menjalin persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar di rumah Anas bin Malik, berdasarkan itsar (saling mendahulukan satu dengan yang lain), persahabatan, dan tolong-menolong. Mereka berjumlah sembilan puluh orang. Dengan saling mempersaudarakan ini, Nabi saw membangun fondasi persaudaraan Islam di antara para sahabat, yaitu kesetiaan dan ketaatan dalam bentuknya yang paling sempurna.








0 comments:
Posting Komentar