Mencintai Rasulullah Saw merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Bahkan seseorang belum dikatakan beriman dengan iman yang sempurna sebelum ia mencintai Rasulullah Saw melebihi cintanya kepada manusia dan harta. Karena, mencintai Rasulullah Saw termasuk perkara ushuluddin (pokok agama). Ini bukti dan konsekuensi beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah makna syahadatain yang wajib diikrarkan oleh seorang muslim, baik dari orang kafir yang masuk Islam atau orang Islam yang terlahir dalam Islam.
Rasul Saw bersabda,
لا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْهِ
مِن والِدِهِ ووَلَدِهِ والنَّاسِ أجْمَعِينَ.
Artinya: "Tidaklah salah
seorang dari kalian beriman (dengan iman yang sempurna) sehingga aku lebih
dicintai dari kedua orang tuanya, anaknya dan manusia semua." (H.R.
Al-Bukhari)
Kualitas iman seseorang sangat
ditentukan dengan kecintaannya kepada Rasul Saw. Orang yang memiliki iman yang
sempurna selalu memposisikan cintanya kepada Rasul Saw dengan posisi urutan
pertama dibandingkan kepada manusia lain bahkan kepada kedua orang tuanya yang
telah melahirkannya ke dunia ini, dan juga anak-anaknya, apalagi kepada hartanya
dan bahkan dirinya sendiri. Demikianlah seharusnya kedudukan Rasul SAW dalam
hati kita, tidak ada yang lebih utama kecuali setelah Allah dan Rasul-Nya.
Pada suatu hari Umar bin Khattab
berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali
dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,
“Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”
Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada
diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya,
lihat Fath al-Bari [XI/523] no. 6632)
Tentunya cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan
suatu ibadah yang amat besar pahalanya. Banyak ayat-ayat Al Quran maupun
hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan ganjaran yang akan diperoleh seorang hamba dari kecintaan dia
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara
dalil-dalil tersebut:
عن أنس رضي الله عنه، أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم
عن الساعة، فقال: متى الساعة؟ قال: «وماذا أعددت لها».قال: لا شيء، إلا أني أُحِب الله ورسوله
صلى الله عليه وسلم، فقال: «أنت مع من أحببت».
قال أنس: فما فرحنا بشيء، فرحنا بقول النبي صلى الله عليه وسلم: «أنت مع من أحببت»
قال أنس: «فأنا أحب النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر، وعمر، وأرجو أن أكون معهم
بحبي إياهم، وإن لم أعمل بمثل أعمالهم»
Anas bin Malik radhiallahu
‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?”
Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang telah engkau
persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku
belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai
Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Rasulullah pun
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan
bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.”
Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.'”
Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu
Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat),
dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal
sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya,
lihat Fath al-Bari [X/557 no. 6171] dan at-Tirmidzi
dalam Sunan-nya [2385])
Adakah keberuntungan yang lebih
besar dari tinggal bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para sahabatnya di surga kelak??
Hakikat cinta pada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan ragam manusia di dalamnya
Setelah kita sedikit membahas
tentang hukum mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beberapa potret cinta para sahabat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, serta ganjaran yang akan diraih oleh orang yang mencintai
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada perkara yang amat
penting untuk kita ketahui berkenaan dengan masalah ini, yaitu: bagaimanakah
sebenarnya hakikat cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam?, bagaimanakah seorang muslim mengungkapkan rasa cintanya
kepada al-Habib al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Apa saja yang harus direalisasikan oleh seorang muslim agar dia dikatakan telah
mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Masalah ini perlu
kita angkat, agar kita memiliki hujjah dihadapan Allah, Rasul dan juga agar
kita mampu menjawab pertanyaan dua malaikat munkar dan nakir kelak alam kubur
nanti, sehingga cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan, karena setiap
kecintaan memerlukan bukti nyata.
Di antara bukti kecintaan yang
hakiki kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain:
a. Meyakini bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar
utusan Allah subhanahu wa ta’ala, dan beliau adalah Rasul yang jujur dan
terpercaya, tidak berdusta maupun didustakan. Juga beriman bahwasanya
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang paling
akhir, penutup para nabi. Setiap ada yang mengaku-aku sebagai nabi sesudah
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pengakuannya adalah
dusta, palsu dan batil. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal. 137, Ad-Durar as-Saniyyah bi
Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, hal 38, Syarh al-Arba’in
an-Nawawiyah, oleh Syeikh Shalih Alu Syaikh, hal 56).
b. Menaati perintah dan menjauhi larangannya. Allah menegaskan,
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ
عَنْهُ فَانتَهُوا
“Dan apa yang diberikan Rasul
kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka
tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)
c. Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan, baik itu berupa
berita-berita yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, karena
berita-berita itu adalah wahyu yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ
يُوحَى
“Dan tiadalah yang
diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
d. Beribadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa
ditambah-tambah ataupun dikurangi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab:
21)
Juga Nabi kita shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, “Barang siapa yang
melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu
akan ditolak.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no
1718).
e. Meyakini bahwa syariat yang berasal dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam setingkat dengan syari’at yang datang dari Allah
subhanahu wa ta’ala dari segi keharusan untuk mengamalkannya, karena apa yang
disebutkan di dalam As Sunnah, serupa dengan apa yang disebutkan di dalam Al
Quran (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih
al-Utsaimin hal. 138). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ
“Barang siapa yang menaati
Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80)
f.
Membela Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tatkala beliau masih hidup, dan membela ajarannya
setelah beliau wafat. Dengan cara menghafal, memahami dan mengamalkan
hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga menghidupkan
sunnahnya dan menyebarkannya di masyarakat.
g. Mendahulukan cinta kepadanya dari cinta kepada selainnya.
Sebagaimana kisah yang dialami oleh Umar di atas, akan tetapi jangan sampai
dipahami bahwa cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam akan membawa kita untuk bersikap ghuluw (berlebih-lebihan),
sehingga mengangkat kedudukan beliau melebihi kedudukan yang Allah subhanahu wa
ta’ala karuniakan kepada Nabi-Nya. Sebagaimana halnya perbuatan sebagian orang
yang membersembahkan ibadah-ibadah yang seharusnya dipersembahkan hanya kepada
Allah subhanahu wa ta’ala, dia persembahkan untuk Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Contohnya: ber-istighatsah (meminta
pertolongan) dan memohon kepadanya, meyakini bahwa beliau mengetahui semua
perkara-perkara yang ghaib, dan lain sebagainya. Jauh-jauh hari Nabi kita shallallahu
‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus
ke dalam sikap ekstrem ini, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam
memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan dalam memuji (Isa)
bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah (bahwa aku):
hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya,
lihat Fath al-Bari [VI/478 no. 3445])
h. Termasuk tanda mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, adalah mencintai orang-orang yang dicintainya. Mereka antara
lain: keluarga dan keturunannya (ahlul bait), para sahabatnya (Asy-Syifa
bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, karya al-Qadli ‘Iyadl [II/573], Majmu’
Fatawa Ibn Taimiyah [III/407], untuk pembahasan lebih luas silahkan
lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah,
karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi [I/344-358]), serta setiap
orang yang mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga
masih dalam kerangka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
adalah kewajiban untuk memusuhi setiap orang yang memusuhinya serta menjauhi
orang yang menyelisihi sunnahnya dan berbuat bid’ah. (Asy-Syifa bi Ta’rifi
Huquq al-Mushthafa, [2/575], untuk pembahasan lebih lanjut silahkan
lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi [I/359-361]).
Itulah hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai bukti
kecintaan kita Rasul SAW sehingga kelak di hari kiamat nanti kita bisa diakui
sebagai ummatnya dan mendapatkan syafaat beliau, amin.
Nabi SAW bersabda:
جُعل الذلة والصغار على من
خالف أمري
“Dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapa saja
yang menyelisihiku.” H.R. Ahmad dan disahihkan oleh Syaikh Albani
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata dalam menerangkan
hadis ini: “Maksudnya Adalah dengan mengikuti Nabi engkau akan menjadi Mulya
dan meraih kemenangan, sebagaimana engkau mengikuti ajarannya engkau akan
mendapat petunjuk dan kesuksesan, karena Allah telah mengaitkan kebahagiaan
dunia dan akhirat dengan mengikuti Rasul-Nya dan menjadikan kesengsaraan di
dunia dan akhirat dengan menyelisihinya”. (Kitab Zadul Ma’ad)







0 comments:
Posting Komentar