Cari Blog Ini

Kamis, 28 Agustus 2025

AHMAD SURKATI, ULAMA YANG TERLUPAKAN[1]

Kalau kita menyebutkan nama-nama para ulama yang pernah ada di negeri kita tercinta ini, tentu yang terlintas dibenak kita adalah nama-nama ulama yang sangat familiar di telinga kita, baik ulama zaman sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan, sebut saja misalkan KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasim Ashari, Buya Hamka, KH. Isa Anshori dll. Jarang sekali terlintas dipikiran kita nama seorang ulama yang satu ini, ya beliau adalah Ahmad Surkati, seorang ulama yang memiliki sepak terjang cukup luas dalam dunia dakwah pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia. Jasa-jasanya dalam dunia dakwah tidak bisa dibilang sepele, akan tetapi walaupun demikian, tidak banyak orang yang mengenal beliau. Beliau memiliki nama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Assoorkatiy Al Khazraji Al Anshari.

Beliau memang bukan pribumi asli, beliau lahir di negeri yang jauh disana yang terkenal dengan keilmuan Islamnya, bahkan sampai hari ini negaranya masih menjadi tempat untuk menuntut ilmu bagi para mahasiswa Indonesia yang ingin belajar ilmu Islam, yaitu Sudan. Tepatnya beliau lahir di pulau Arqu daerah Dunggulah, pada tahun 1292 H atau 1874 M. Dunggulah ketika itu masih termasuk wilayah Mesir. Ayahnya Muhammad adalah seorang ulama besar yang amat terkenal lulusan Al Azhar Mesir, keturunan Khazaraz dari kabilah Al Jawaabirah, yang berasal dari Jabir bin Abdullah Al Anshari, salah seorang sahabat yang terkenal. Soorkatiy sendiri adalah gelar bagi seorang ilmuwan di daerah Dunggulah kuno yang bermakna kitab yang berbobot dan banyak.   

Ketika masih anak-anak beliau telah belajar Alqur’an dan bahkan berhasil menghafalkannya dalam usia yang masih sangat belia. Beliau juga belajar ilmu yang lain seperti fikih, tauhid dari ayahnya yang merupakan seorang guru. Setelah ayahnya wafat, beliau merantau ke Mesir dan melanjutkan pelajaran di Al Azhar walaupun tidak sampai lama karena beliau Kembali ke Sudan. Ketika berusia 22 tahun atau tepatnya tahun 1314 H, beliau berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, kesempatan itu dimanfaatkannya untuk menimba ilmu di Madinah selama kurang lebih 5 tahun. Kemudian beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Mekah dan menyelesaikan studinya tahun 1326 H/1908 M dan meraih gelar Al Allamah setelah mempertahankan tesisnya tetang qadha dan qadar, dan beliau merupakan orang Sudan pertama yang berhasil meraih gelar tersebut.

Lalu beliau mendapatkan ijin untuk mengajar di Al Haram As Syarif dan setelah itu diangkat menjadi mufti di Mekah. Setelah itu beliau diminta untuk mengajar pada Jami’at Khair di Indonesia. Undangan ini menarik hatinya karena Ketika itu Indonesia dikenal dengan negeri orang primitive, dia pun berpikir bahwa “mati di jawa dengan berjihad itu lebih suci daripada mati di Mekah tanpa jihad”.

Kedatangan Surkati di Jawa bulan Maret 1911 ternyata menjadi peristiwa penting dalam Sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Setlah tiba di Indonesia, beliau pun segera menyebarkan dakwah Islamnya dengan menghubungi para pemuka Masyarakat. Dan dalam waktu singkat ia telah mampu bergaul dengan para pemimpin Islam dan pergerakan kebangsaan. Setiap kesempatan yang dimilikinya dia gunakan untuk berdialog dengan mereka, sebab ia berkeyakinan bahwa tanpa dialog tidak akan mungkin berbagai pesan dapat disampaikan. Bahkan bukan hanya dengan para tokoh Islam saja, beliau juga sempat berdialog dengan Semaun yang merupakan tokoh Syarikat Islam kiri yang mempunyai pemikiran komunis.

Beliau sangat lues dalam berdakwah, bahkan dalam suatu acara, yaitu kongres Islam pertama yang diadakan tahun 1922 di Cirebon, beliau ikut dalam upacara ritual berupa pembacaan maulid Barjanji, ketika pembacaan ini,semua orang diminta berdiri, beliaupun ikut berdiri. Hal ini menimbulkan keheranan dan protes dari muridnya sendiri yang ikut hadir di acara itu akan tetapi mereka tidak ikut berdiri, mereka adalah Umar Hubeish, Umar Naji dan Abdullah Badjerei. Surkati pun menjawab protes mereka dengan mengatakan, ‘Sikap kalian itu sudah benar, sesuai dengan apa yang saya ajarkan. Tetapi saya ini punya misi. Saya perlu berdialog dengan mereka semua. Kalau saya duduk seperti kalian pada upacara tadi, pintu untuk saya berdialog dengan mereka sudah pasti tertutup”.

Syaikh Ahmad Surkati wafat di kediamannya, pada hari kamis tanggal 16 September 1943 pukul 09.00, di jalan KH Hasyim Asy’ari nomor 25 Jakarta, yang pernah dipergunakan sebagai kantor Al Irsyad tingkat nasional. Beliau dimakamkan di pemakaman karet Tanah Abang Jakarta. Tokoh-tokoh Islam nasional turut mengantarkan jenazahnya ke tempat kuburannya, bahkan tokoh nasional pun ikut hadir seperti Soekarno yang kelak menjadi presiden RI pertama.



[1] Al Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa, H. Husein Badjerei, Jakarta, Presto Prima Utama, 1996.

0 comments:

Posting Komentar

SEJARAH BAITUL MAQDIS

Dari Penaklukan Islam hingga Realitas Kontemporer Pendahuluan Baitul Maqdis—yang dikenal juga sebagai Al-Quds atau Jerusalem—merupakan s...