Kalau kita menyebutkan nama-nama para ulama yang pernah ada di negeri kita tercinta ini, tentu yang terlintas dibenak kita adalah nama-nama ulama yang sangat familiar di telinga kita, baik ulama zaman sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan, sebut saja misalkan KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasim Ashari, Buya Hamka, KH. Isa Anshori dll. Jarang sekali terlintas dipikiran kita nama seorang ulama yang satu ini, ya beliau adalah Ahmad Surkati, seorang ulama yang memiliki sepak terjang cukup luas dalam dunia dakwah pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia. Jasa-jasanya dalam dunia dakwah tidak bisa dibilang sepele, akan tetapi walaupun demikian, tidak banyak orang yang mengenal beliau. Beliau memiliki nama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Assoorkatiy Al Khazraji Al Anshari.
Ketika masih anak-anak beliau telah belajar Alqur’an dan bahkan berhasil menghafalkannya dalam usia yang
masih sangat belia. Beliau juga belajar ilmu yang lain seperti fikih, tauhid dari
ayahnya yang merupakan seorang guru. Setelah ayahnya wafat, beliau merantau ke Mesir
dan melanjutkan pelajaran di Al Azhar walaupun tidak sampai lama karena beliau Kembali
ke Sudan. Ketika berusia 22 tahun atau tepatnya tahun 1314 H, beliau berangkat
ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, kesempatan itu dimanfaatkannya untuk
menimba ilmu di Madinah selama kurang lebih 5 tahun. Kemudian beliau
melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Mekah dan menyelesaikan studinya tahun 1326 H/1908
M dan meraih gelar Al Allamah setelah mempertahankan tesisnya tetang qadha dan
qadar, dan beliau merupakan orang Sudan pertama yang berhasil meraih gelar
tersebut.
Lalu beliau mendapatkan ijin
untuk mengajar di Al Haram As Syarif dan setelah itu diangkat menjadi mufti di
Mekah. Setelah itu beliau diminta untuk mengajar pada Jami’at Khair di
Indonesia. Undangan ini menarik hatinya karena Ketika itu Indonesia dikenal
dengan negeri orang primitive, dia pun berpikir bahwa “mati di jawa dengan
berjihad itu lebih suci daripada mati di Mekah tanpa jihad”.
Kedatangan Surkati di Jawa bulan
Maret 1911 ternyata menjadi peristiwa penting dalam Sejarah perkembangan Islam
di Indonesia. Setlah tiba di Indonesia, beliau pun segera menyebarkan dakwah
Islamnya dengan menghubungi para pemuka Masyarakat. Dan dalam waktu singkat ia
telah mampu bergaul dengan para pemimpin Islam dan pergerakan kebangsaan. Setiap
kesempatan yang dimilikinya dia gunakan untuk berdialog dengan mereka, sebab ia
berkeyakinan bahwa tanpa dialog tidak akan mungkin berbagai pesan dapat
disampaikan. Bahkan bukan hanya dengan para tokoh Islam saja, beliau juga
sempat berdialog dengan Semaun yang merupakan tokoh Syarikat Islam kiri yang mempunyai
pemikiran komunis.
Beliau sangat lues dalam
berdakwah, bahkan dalam suatu acara, yaitu kongres Islam pertama yang diadakan
tahun 1922 di Cirebon, beliau ikut dalam upacara ritual berupa pembacaan maulid
Barjanji, ketika pembacaan ini,semua orang diminta berdiri, beliaupun ikut
berdiri. Hal ini menimbulkan keheranan dan protes dari muridnya sendiri yang ikut
hadir di acara itu akan tetapi mereka tidak ikut berdiri, mereka adalah Umar
Hubeish, Umar Naji dan Abdullah Badjerei. Surkati pun menjawab protes mereka
dengan mengatakan, ‘Sikap kalian itu sudah benar, sesuai dengan apa yang saya
ajarkan. Tetapi saya ini punya misi. Saya perlu berdialog dengan mereka semua. Kalau saya duduk seperti kalian pada upacara tadi, pintu untuk saya berdialog dengan
mereka sudah pasti tertutup”.
Syaikh Ahmad Surkati wafat di
kediamannya, pada hari kamis tanggal 16 September 1943 pukul 09.00, di jalan KH
Hasyim Asy’ari nomor 25 Jakarta, yang pernah dipergunakan sebagai kantor Al
Irsyad tingkat nasional. Beliau dimakamkan di pemakaman karet Tanah Abang
Jakarta. Tokoh-tokoh Islam nasional turut mengantarkan jenazahnya ke tempat
kuburannya, bahkan tokoh nasional pun ikut hadir seperti Soekarno yang kelak
menjadi presiden RI pertama.







0 comments:
Posting Komentar