Cari Blog Ini

Minggu, 23 Agustus 2026

ISRA MI'RAJ, Peristiwa yang Memisahkan Orang Beriman dan Tidak

Setelah peristiwa pengepungan Bani Hasyim oleh kaum Quraisy dari tahun ketujuh sampai sepuluh kenabian, ternyata ujian bagi Nabi Muhammad SAW belumlah berakhir. Setelah itu dua orang yang selama ini menjadi sandaran da'wah Islam, yang senantiasa membantu dan juga menguatkan langkah kakinya, harus meninggalkannya. Yang pertama adalah paman beliau, yaitu Abu Thalib, laki-laki yang sejak kecil setelah ditinggalkan kakeknya tercinta yaitu Abdul Muthallib, senantiasa menanggung hidupnya, dan merawatnya hingga dewasa.

Dan ketika beliau diangkat menjadi Nabi, lalu orang-orang Quraisy senantiasa mengganggunya dan bahkan ingin membunuhnya, Abu Thalib berdiri di baris terdepan untuk membelanya dan melindunginya, dia tidak gentar sedikitpun walaupun harus berhadapan dengan para begundal Quraisy yang terkenal keras dan licik. Ternyata di tahun kesepuluh, dia harus pergi untuk selamanya, meninggalkan dunia ini. Ada satu hal yang Nabi SAW sesalkan tentunya dengan kepergiannya, yaitu Abu Thalib tidak mau mengucapkan kalimat tauhid yang merupakan jaminan baginya untuk selamat dari adzab di akhirat nanti. Sebagaimana Abu Thalib yang sangat menyangi keponakannya itu, begitu pula nabi Muhammad SAW sangat menyayanginya, akan tetapi hidayah hanyalah Allah yang menentukan sehingga Nabi pun hanya bisa pasrah menerima takdir yang telah Allah tetapkan untuk pamannya itu.

Yang kedua adalah istrinya tercinta, Khadijah binti Khuwailid ra. Setelah kurang lebih dua puluh lima tahun lamanya selalu mendampinginya dan menolongnya dalam menyebarkan da'wah Islam baik dengan jiwanya dan juga hartanya, akhirnya harus berpisah untuk selama-lamanya di saat beliau baru saja kehilangan pamannya. Tentu dua musibah ini sangatlah berat dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW, akan tetapi sekali lagi Allah maha tahu apa yang terbaik untuknya. Setelah itu, Allah menguatkannya dengan peristiwa Isra Mi'raj, Isra artinya Allah perjalankan Nabi SAW di malam hari dari masjidil Haram (Mekah) ke masjid Al Aqsa (Palestina), sedangkan Mi'raj artinya Allah naikan ke langit ke tujuh. Hal ini terjadi dalam satu malam saja, tidak lebih, dengan mengendarai buraq dan ditemani oleh Jibril AS. Dan di setiap langit, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para Nabi yang lain, mulai dari Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Isa AS. Lalu Allah pun memerintahkan agar umatnya melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam. Maka inilah awal mula perintah shalat bagi umat Islam. 

Saat pagi harinya, Nabi SAW menceritakan peristiwa itu kepada kaumnya, akan tetapi sudah barang tentu mereka tidak mempercayainya begitu saja, maka mereka pun meminta bukti nyata agar mereka yakin, yaitu dengan menggambarkan ciri-ciri Baitul Maqdis. Maka Nabi pun menyebutkannya dengan tepat, sehingga orang-orang Quraisy tidak bisa menyanggahnya. Dan tidak hanya itu, Nabi pun menyebutkan perihal rombongan dagang Quraisy yang mana salah satu untanya melarikan diri. Akan tetapi setelah itu, mereka tetap tidak mempercayainya juga. Dan satu-satunya orang yang tidak meragukan kisah ini adalah Abu Bakar saja, yang dengannya dia digelari Ash-Shiddiq. 

Demikianlah Allah menjadikan orang-orang yang kafir terhadap Allah semakin jauh dari keimanan, akan tetapi orang yang beriman semakin kuat keimanannya dengan peristiwa itu. Orang yang menolak akan terjadinya Isra Mi'raj tentu akan berargumen bahwa hal itu mustahil terjadi kepada seorang manusia biasa, apalagi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat itu masih sangat-sangat terbatas, bagaimana mungkin hal itu terjadi. Demikianlah kira-kira yang ada di kepala mereka. Mereka lupa bahwa yang menjadikan Nabi Muhammad SAW mampu berangkat dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis lalu naik ke langit ketujuh adalah Allah, Dzat yang sama yang telah menciptakan langit dan bumi ini dengan begitu indah. Dan juga yang menciptakan manusia serta menghidupkan dan mematikannya. 

Begitu pula di zaman ini, peristiwa Isra Mi'raj masih menjadi perdebatan dikalangan manusia yang mengaku modern dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka masih menganalogikan peristiwa itu dengan teknologi yang ada hari ini, dimana hal itu dianggap mustahil karena sampai hari ini tidak ada kendaraan yang mampu melakukannya. Alangkah bodohnya mereka ketika menganggap ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia saat ini dianggap sebagai suatu kemajuan yang dahsyat dan tidak ada lagi yang mengunggulinya, bahkan dengan ilmu Allah sekalipun. Suatu kebodohan yang bercampur dengan kesombongan tentunya jika mereka benar-benar berpikir demikian, kalau seandainya mereka menganggap diri mereka hebat, mengapa mereka tidak menolak kematian pada diri mereka sendiri, atau sanggupkah mereka menciptakan oksigen sendiri, tanpa mengambil dari yang ada di alam ini. Demikianlah jika Allah ingin menyesatkan seseorang, maka tidak akan ada seorangpun yang bisa menyadarkannya dari kesesatannya.     

0 comments:

Posting Komentar

ISRA MI'RAJ, Peristiwa yang Memisahkan Orang Beriman dan Tidak

Setelah peristiwa pengepungan Bani Hasyim oleh kaum Quraisy dari tahun ketujuh sampai sepuluh kenabian, ternyata ujian bagi Nabi Muhammad SA...